Friday, November 12, 2010

writing and idea

Actually I want to write something here, in my blog but I have no idea.
If I want to write something and have no idea, I remember my english teacher words who taught me writing in english. the words is "no idea no writing "


Sometime I myself say "no writing no idea"
I have no idea why I prefer said "No Writing No Idea" than No Idea No Writing".

Thursday, July 08, 2010

Friday, July 03, 2009

ROAST OR ROBUSTA

Cuaca cukup cerah dihari terakhir aku ikut survey GPS. Sebenarnya aku bukan ahli GPS bahkan samasekali tidak pernah mempelajari GPS. Aku hanya dimintakan untuk menemani sensei untuk menjadi translator agar memudahkannya dalam komunikasi saat melakukan survey. Wow... translator! Bukan karena aku memiliki kemampuan yang luar biasa dalam penguasaan bahasa asing tapi karena ga da yang lain :). Mmm...english ku masih payah, toefl aja hampir 500 :) (artinya belom sampe 500kan ha..ha...) tapi dimintakan untuk menjadi translator.
Yach.. englishnya yang payah dan susah, ngerti ga ngerti, lantaran englishku yang masih kacau... jadinya komunikasi kami nyambung saat survey. Tapi apa yang terjadi setelah survey??

Pulang dari survey GPS kami punya waktu luang setengah hari sebelum kembali ke Banda Aceh. Mengisi waktu luang kami berencana pergi ke Bintang. Sungguh, kami benar-benar ingin ke Bintang. Sensei pun setuju kalau kami ke Bintang. Tapi, sebelumnya sensei ingin membeli kopi – kopi gayo.Hmm.... sensei suka kopi pahit.
Selesai makan siang kami pun mencari kopi tersebut.


”Kopi roasta” kata sensei
”Roasta? Apakah robusta sensei?” tanyaku
”Yah”, ia mengangguk.
Ok, Pencarian robustapun segera dilakukan.
Kami pun singgah pada salah satu kedai.
”ada biji kopi?” tanyaku
Sang pedagangpun menunjukkan biji kopinya.
Aku bertanya pada sensei
”apa ini yang di cari?”
Bukan katanya ”no it isn’t. roasta “
“Robusta?”
“Yah”
“ini kopi apa? Robusta ada?” tanyaku pada pedagang.
”Ini kopi kecil, kalau robusta lebih besar lagi kopinya” kata sang pedagang.

???

Setelah berputar-putar di pasar dekat terminal engga ketemu, Kami pun meneruskan pencarian robusta ke tempat lain. Kami pergi ke pasar ke arah hotel Renggali – tempat kami menginap saat tiba di kota Takengon selama dua malam dan akhirnya pindah ke hotel Mahara.

Setiba di pasar, kami bertanya pada pedagang apa ada biji kopi?
Pedagangpun menunjukkan jenis kopi yang sama dengan tempat sebelumnya.
Lagi-lagi bukan itu kopi yang dicari, kamipun menunjukkan bubuk kopi yang ada di dekat biji kopi tersebut.
Lagi-lagi Bukan katanya, ”it’s powder".


Before this one and after this one”.
(aku menangkap maksudnya, Yang belum menjadi bubuk tetapi yang sudah digiling).

Tanya sana sini, dari tukang parkir sampe tukang becak dimana ada kopi Robusta.
Pencarian robusta ga ketemu juga.
Kami kembali ke mobil dan segera ku ambil kamus elektronik ku dan ku ketik kata ”roast” Keluar ”daging panggang”.
Sensei pun mengeluarkan kamusnya dan mengetikkan kata ”roasting” Ternyata...
Kopi roast... bukan kopi robusta :)
Kenapa student bukan studenta aja?

Pencarian terus dilakukan...
Setelah berputar-putar kota Takengon berkali-kali pada jalan yang sama, akhirnya kami menemukan kopi robusta:).
Ternyata tempatnya hanya beberapa meter dari belakang hotel tempat kami menginap :).
Kamipun kembali ke hotel tuk beristirahat dan bersiap-siap ke Bintang.

Ternyata Survey kopi robusta (roast) lebih sulit daripada pencarian titik-titik untuk survey GPS.

Tuesday, March 24, 2009

Main batu (domino)

Menjelang pemilihan umum masyarakat diharapkan berpartisipasi dalam menjaga keamanan. Setiap warga diwajibkan untuk jaga malam demi keamanan. Setiap 10 hari sekali kami harus jaga malam. Sudah menjadi hal biasa, mungkin juga budaya kalau setiap jaga malam diiringi dengan bermain batu. Di sini aku tidak menceritakan sejarah, cara bermain, ataupun teknik bermain agar bisa menang. Itu bukan keahlianku. Aku hanya menceritakan sedikit pengalamanku dalam bermain batu.


Malam itu Dandru mengajak ku ikut brmain batu. Aku yang tak pernah bermain spontan bilang aku tidak bisa main.

” cara naik tahu?’

”Tahu” jawabku

” ya udah apalagi”

Akupun mengikuti ajakannya, yang kalah jongkok katanya. Aku berpasanngan denga Ai sedangkan Dandru berpasangan dengan Agus.


Permainan pun di mulai, diriku yang awam pun ikut bermain. Tanpa tahu bagaimana caranya (teknik bermain yang baik dan benar), aku hanya menaruh batu yang sesuai tanpa melakukan perhitungan seperti yang mereka lakukan. Untuk permainan awal, tap! batu kuletakkan seenaknya, Ai – teman bermainku bilang – ”itu adu”. ternyata aku mengadu batu. Point pun dihitung, akupun juga ga tahu bagaimana sistem perhitungannya, apakah untuk jumlah yang memiliki point yang besar atau yang kecil nantinya dikatakan pemenang atau seperti apa? dan aku pun tidak tahu apa maksud dari -10 yang mereka katakan. Sengaja aku tidak menayakan hal itu kepada mereka, aku hanya mengikuti arus. Aku mencoba mencari sendiri apa maksudnya.


Permainan terus berlangsung, untuk perhitungan atau tak tik yang digunakan batu mana yang harus/sebaiknya dikeluarkan agar bisa mengalahkan lawan dan bisa memberikan kawan berjalan mulus sama sekali tak kumengerti. Mereka terus berpikir agar bisa menang tapi aku berpikir bagaimana cara permainan ini berjalan, bagaimana kita bisa tahu batu berapa yang ada di pihak lawan dan kawan.

Aku terus mencoba dan mencoba dengan batu yang acak-acakan yang kuberikan membuat mereka bingung aku sendiri juga bingungJ. Hingga babak pertamapun selesai.


” siapa yang jongkok?” tanya Ai pada Dandru.

”Tak ada yang jongkok” jawabnya

Ha... ha...

Aku baru tahu ternyata aku dan Ai menang setelah mereka berpindah posisi (menggantikan jongkok) pertanda bahwa mereka kalah.

Permainan dilanjutkan, di babak kedua permainan diiringi dengan makan sate bersama. Untuk babak kedua aku dan Ai memenangkan lagi permainan ini. Seperti pada babak pertama, aku tahu kalo aku menang karena mereka berpindah posisi untuk kedua kalinya J

Ha... ha... menang lagi (2-0).


Babak ketiga ketiga lawan ku mengatakan ”aku dikalahkan oleh orang yang mengaku tidak bisa bermain batu. Ga bisa dia ga jelas!”

Di babak ini aku tak menyadari kalo aku sempat masuk/mengakhiri permainan terus-menerus beberapa kali. Aku mulai sedikit memahami batu mana yang harus kita keluarkan meski aku belum bisa paham/memprediksikan batu yang ada pada kawan ato lawan dengan baik. Karena aku tak begitu paham, untuk babak ketiga ini, yachh... sayangnya aku dan Ai masih memenangkannya (3-0).

Permainan ini jelas kumenangkan bukan karena keahlianku dalam permainan ini, hanya saja keberuntungan sedang bermain.


Orang akan bingung dengan kita yang tak tahu cara bermain.

”Kita bermain tanpa memiliki pola tertentu sehingga lawan akan kesulitan memprediksikan tujuan kita.

Lawan bermain dengan mengamati pola permainan kita dan lawan tentu juga memiliki pola bermain.”

(sajidin,22-02-2008)

Friday, July 04, 2008

Awal dan Endingnya

Cukup lama blog ini tidak ku posting, waaah hampir dua tahun ternyata. Mmm... Banyak hal sebenarnya yang ingin ku tulis disini tapi berbagai kendala selalu aja ada, kemampuan dalam menulis juga merupakan salah satu faktor. Saat sekolah dasar dulu aku paling tidak suka dengan tugas mengarang, pasalnya aku ga bisa mengarang dengan baik. Karangan ku selalu aja tentang seseorang yang pergi memancing dan seperti biasa selalu di awali dengan pada suatu hari... :) dan kalau menggambar selalu menggambar gunung, muncul matahari diantara pegunungan, ada pantai dan jalan serta persawahan :)

Kendala lain saat aku mencoba untuk menulis adalah aku mengalami kesulitan dan agak bingung harus memulai dari mana jalan ceritanya dan ketika aku udah menulis – seperti biasa dengan diawali pada suatu hari... – terus aku ga tahu mau mengakhiri ceritanya seperti apa. Gimana endingnya ga pernah jelas dan aku ga pernah tuntas menulis karanganku. Yang jelas ending karanganku selalu berakhir dengan batas waktu yang diberikan oleh sang guru sehingga ga pernah selesai. Aku menunggu waktu untuk dikumpulkan sehingga akhir ceritaku dengan sendirinya diakhiri oleh waktu. Ha..ha...

Wednesday, November 08, 2006