Friday, July 03, 2009

ROAST OR ROBUSTA

Cuaca cukup cerah dihari terakhir aku ikut survey GPS. Sebenarnya aku bukan ahli GPS bahkan samasekali tidak pernah mempelajari GPS. Aku hanya dimintakan untuk menemani sensei untuk menjadi translator agar memudahkannya dalam komunikasi saat melakukan survey. Wow... translator! Bukan karena aku memiliki kemampuan yang luar biasa dalam penguasaan bahasa asing tapi karena ga da yang lain :). Mmm...english ku masih payah, toefl aja hampir 500 :) (artinya belom sampe 500kan ha..ha...) tapi dimintakan untuk menjadi translator.
Yach.. englishnya yang payah dan susah, ngerti ga ngerti, lantaran englishku yang masih kacau... jadinya komunikasi kami nyambung saat survey. Tapi apa yang terjadi setelah survey??

Pulang dari survey GPS kami punya waktu luang setengah hari sebelum kembali ke Banda Aceh. Mengisi waktu luang kami berencana pergi ke Bintang. Sungguh, kami benar-benar ingin ke Bintang. Sensei pun setuju kalau kami ke Bintang. Tapi, sebelumnya sensei ingin membeli kopi – kopi gayo.Hmm.... sensei suka kopi pahit.
Selesai makan siang kami pun mencari kopi tersebut.


”Kopi roasta” kata sensei
”Roasta? Apakah robusta sensei?” tanyaku
”Yah”, ia mengangguk.
Ok, Pencarian robustapun segera dilakukan.
Kami pun singgah pada salah satu kedai.
”ada biji kopi?” tanyaku
Sang pedagangpun menunjukkan biji kopinya.
Aku bertanya pada sensei
”apa ini yang di cari?”
Bukan katanya ”no it isn’t. roasta “
“Robusta?”
“Yah”
“ini kopi apa? Robusta ada?” tanyaku pada pedagang.
”Ini kopi kecil, kalau robusta lebih besar lagi kopinya” kata sang pedagang.

???

Setelah berputar-putar di pasar dekat terminal engga ketemu, Kami pun meneruskan pencarian robusta ke tempat lain. Kami pergi ke pasar ke arah hotel Renggali – tempat kami menginap saat tiba di kota Takengon selama dua malam dan akhirnya pindah ke hotel Mahara.

Setiba di pasar, kami bertanya pada pedagang apa ada biji kopi?
Pedagangpun menunjukkan jenis kopi yang sama dengan tempat sebelumnya.
Lagi-lagi bukan itu kopi yang dicari, kamipun menunjukkan bubuk kopi yang ada di dekat biji kopi tersebut.
Lagi-lagi Bukan katanya, ”it’s powder".


Before this one and after this one”.
(aku menangkap maksudnya, Yang belum menjadi bubuk tetapi yang sudah digiling).

Tanya sana sini, dari tukang parkir sampe tukang becak dimana ada kopi Robusta.
Pencarian robusta ga ketemu juga.
Kami kembali ke mobil dan segera ku ambil kamus elektronik ku dan ku ketik kata ”roast” Keluar ”daging panggang”.
Sensei pun mengeluarkan kamusnya dan mengetikkan kata ”roasting” Ternyata...
Kopi roast... bukan kopi robusta :)
Kenapa student bukan studenta aja?

Pencarian terus dilakukan...
Setelah berputar-putar kota Takengon berkali-kali pada jalan yang sama, akhirnya kami menemukan kopi robusta:).
Ternyata tempatnya hanya beberapa meter dari belakang hotel tempat kami menginap :).
Kamipun kembali ke hotel tuk beristirahat dan bersiap-siap ke Bintang.

Ternyata Survey kopi robusta (roast) lebih sulit daripada pencarian titik-titik untuk survey GPS.

0 komentar: